Efek Buruk Helicopter Parenting Terhadap Anak

 

Sebagai orangtua, ada satu lagi term yang mesti diketahui terkait dengan gaya parenting masa kini–yang semestinya tidak Anda jadikan metode terhadap anak. “Helicopter parenting”, sebuah istilah unik yang pertama kali digulirkan oleh penulis buku Between Parent & Teenager, Dr. Haim Ginott, pada tahun 1969 untuk menggambarkan gaya parenting over-protektif–hadir di dekat anak terus menerus, tak ingin lepas dari pandangan, sampai benar-benar terlibat di beberapa keputusan penting si anak ketika ia beranjak dewasa.

David Wolfe, dalam blog-nya menulis bahwa menjaga anak memang sesuatu yang insting yang alami. Apalagi, perlakuan ini berlandaskan cinta kasih yang tulus. Tapi jika berlebihan, Anda sebagai orangtua bisa jadi ‘sang helikopter’ yang justru merusak psikologi anak dalam jangka waktu yang lama.

Jika bisa digambarkan, “Hati-hati, Nak,” adalah mantra favorit yang digunakan para orangtua bertipe helikopter, seperti dikutip dari The Huffington Post. Kalau digunakan dalam taraf yang wajar, bukan masalah, tapi jika orangtua melakukannya sampai ‘turun langsung’ memaksa anak demi ego orangtua, selamat, Anda sudah jadi ‘orangtua helikopter’.

 

Sikap over-protektif terhadap anak, takut untuk melepas ia jalan sendiri di kehidupannya, sampai membayangi anak dengan ego Anda ini bisa memberi efek buruk dalam jangka waktu yang lama bagi anak.

Berdasarkan studi, mahasiswa dengan orangtua bertipe helikopter cenderung mengalami depresi dan kurang memiliki kepuasan di kehidupannya. Ini terkait dengan perasaan tanggung jawab yang berlebihan atas permintaan orangtua.

Mereka yang hidup dengan helicopter parenting juga jadi punya rasa percaya diri yang rendah, punya jiwa yang rapuh, dan rentan terhadap ajakan-ajakan bertingkah laku negatif jika ada di lingkungan yang buruk.

Anak juga bisa jadi tak kreatif karena sudah keburu dibayang-bayangi oleh ego orangtua. Anak selalu diberi batasan yang terlalu ketat sehingga ia tak terpancing untuk berpikir lebih luas dan ‘liar’ (dalam arti positif). KQED menulis, orangtua kadang malah terlalu banyak khawatir, sementara mereka seharusnya lebih banyak memberi rasa kepercayaan.

Efek buruk helicopter parenting juga terasa jika si anak masuk dunia kerja. Dikutip dari The Huffington Post, dia akan sulit mengambil keputusan, tak memiliki jiwa kepemimpinan, dan ‘menghilang’ jika ada masalah. Semuanya terjadi karena mereka dikuasai oleh ego orangtua yang berlebih.

 

Sebuah kewajaran kalau kekhawatiran orangtua terhadap anak makin meningkat seiring dengan derasnya arus informasi melalui berbagai media.

Maksud baik ingin membentuk generasi yang lebih ideal, malah menjerumuskan mereka ke perangkap ego dengan efek jangka panjang yang buruk.

Untuk itu, mulai sekarang, berikan anak ruang untuk bereksplorasi, demi mengenal diri dan lingkungannya sendiri.

 

Penulis: ShopBack.co.id (link to https://www.shopback.co.id/)  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *